Gedung Sate telah sejak lama menjadi salah satu destinasi obyek wisata di kota Bandung. Tidak hanya wisatawan lokal saja, tapi banyak pula wisatawan asing yang datang berkunjung ke Gedung Sate karena mempunyai keterkaitan emosi maupun history pada gedung ini.

Gedung Sate juga menjadi pilihan tempat yang asik bagi warga sekitar untuk bersantai, sekadar duduk-duduk, atau berolahraga ringan sambil menikmati udara segar kota Bandung.

Lokasi Gedung Sate

Lokasi Gedung Sate beralamat di Jl Diponegoro No 22, kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Gedung yang memiliki ornamen khas berupa tusuk sate pada menara sentralnya ini telah sejak lama menjadi ikon kota Bandung.

Luas bangunan Gedung Sate sekitar 10,8 ribu meter persegi dan berdiri di atas lahan seluas hampir 28 ribu meter persegi.

Gedung Sate juga sudah begitu dikenal sebagai ikon kota Bandung tidak hanya bagi masyarakat di Provinsi Jawa Barat, tapi juga masyarakat di seluruh Indonesia.

Sejarah Singkat Gedung Sate

Sejarah Gedung Sate pada masa Hindia Belanda dikenal dengan sebutan Gouvernements Bedrijen (GB). Peletakkan batu pertama pembangunan gedung ini dilakukan pada tanggal 27 Juli 1920 oleh Johanna Catherina Coops merupakan puteri sulung Walikota Bandung B. Coops dan Petronella Roelofsen saat itu.

Gedung Sate didesain oleh arsitek bernama Ir. J. Gerber beserta kelompoknya yang juga mendapat masukan dari maestro arsitek Belanda bernama Dr. Hendrik Petrus Berlage.

Meski rancangannya dibuat oleh arsitek berkebangsaan Belanda, namun nuansa arsitektur tradisional Nusantara tetap melekat pada wajah Gedung Sate Bandung.

Beberapa aliran arsitektur dipadukan oleh Gerber ke dalam rancangan Gedung Sate. Ia menerapkan tema Moor Spanyol pada jendela-jendelanya, dan tema Rennaisance Italia untuk bangunannya.

Sedangkan untuk menara, Gerber memasukkan tema khusus Asia, yaitu dengan gaya atap pura Bali atau seperti pagoda-pagoda di Thailand.

Di puncak menara ditambahkan ornamen “tusuk sate” dengan 6 buah sate, melambangkan biaya pembangunannya yang menghabiskan dana sebesar 6 juta gulden.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Gedung Sate mulanya diperuntukkan bagi Departemen Lalu Lintas dan Pekerjaan Umum, bahkan sempat menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda setelah Batavia dianggap sudah tidak memenuhi syarat.

Di Gedung Sate pernah terjadi peristiwa bersejarah pada tanggal 3 Desember 1945. Peristiwa itu memakan korban tujuh orang pemuda yang mencoba mempertahankan Gedung Sate dari serangan pasukan Gurkha.

Untuk mengenang peristiwa tersebut dibuatkanlah tugu dari batu yang sekarang ini terletak di halaman depan Gedung Sate.

Kenapa Dinamakan Gedung Sate?

Banyak orang yang penasaran dan bertanya-tanya kenapa bangunan ini dinamakan gedung sate. Gedung yang dibangun pada tanggal 27 Juli 1920 ini mulanya bernama Gedung GB yang merupakan singkatan dari Gouvernments Bedrijven.

Tetapi, lambat laun banyak orang menyebutnya dengan nama Gedung Sate karena adanya simbol menyerupai tusuk sate di puncak bangunan atau menara sentralnya. Simbol “tusuk sate” tersebut dibuat bukan tanpa alasan.

Simbol yang mirip dengan tusuk sate tersebut sebenarnya adalah tusukan satu dengan enam ornamen berbentuk jambu air.

Menurut petugas Keamanan Dalam Gedung Sate sekaligus tour guide Gedung Sate, ornamen tersebut dibuat dari material berbahan perunggu berwarna hijau.

Tusuk sate dengan enam ornamen berbentuk bulat, melambangkan biaya pembangunan Gedung Sate yang menghabiskan dana sebesar 6 juta gulden pada masa pemerintah Hindia-Belanda.

Rute Menuju Gedung Sate

Rute menuju Gedung Sate sangat mudah dijangkau, karena lokasinya berada di pusat kota Bandung atau tepatnya di Jalan Diponegoro No 22 kota Bandung.

Rute Jalan Menggunakan Kendaraan Pribadi

  • Rute dari arah Buah Batu, melewati Jalan Gurame, Karapitan, Sunda, Sumbawa, Lombok, Banda, Cilamaya, sampai di Jalan Diponegoro, Anda akan segera tiba di Gedung Sate.
  • Rute dari arah Dago, melewati Jl Juanda langsung ke Jl Diponegoro, sampai di Gedung Sate.
  • Rute dari arah Pasteur, melewati Terusan Pasteur, Flyover Paspati, Jl Surapati, Jl Sentot Alibasjah, Jl Diponegoro, sampai ke Gedung Sate.
  • Rute dari arah Tegalega, melewati BKR, Jl Mohamad Ramdan, Karapitan, Sunda, Sumbawa, Lombok, Banda, Cilamaya, Jalan Diponegoro, sampai ke Gedung Sate.
  • Rute dari arah Cimahi, melewati Jalan Raya Cibabat, Cimindi, Jalan Raya Gunung Batu, Terusan Pasteur, Flyover Paspati, Jl Surapati, Jl Sentor Alibasjah, Jl Diponegoro, sampai ke Gedung Sate.
  • Rute dari arah Jakarta, melewati Cawang, Tol Jakarta-Cikampek, Tol Purbaleunyi, pintu keluar Pasteur, Terusan Pasteur, Flyover Paspati, Jl Surapati, Jl Sentot Alibasjah, Jl Diponegoro, sampai ke Gedung Sate.

Rute Naik Kendaraan Umum

  • Dari Bandara Husein Sastranegara naik ojeg ke perempatan Patung Husein, naik lagi angkot 06 jurusan Ciroyom-Cicaheum, turun di seberang Lapangan Gasibu, nyebrang ke Lapangan Gasibu, Anda cukup jalan kaki menuju ke Gedung Sate.
  • Dari Stasiun Kereta Api Bandung keluar pintu selatan, naik angkot 09 jurusan Stasiun Hall – Dago, turun di perempatan Dago-Diponegoro-Sulanjana, naik lagi angkot 05 jurusan Ledeng-Cicaheum turun di seberang Gedung Sate.
  • Dari Stasiun Kiaracondong naik angkot 16 jurusan Riung Bandung – Dago, turun di depan Gedung Sate.
  • Dari terminal Cicaheum naik angkot 05 jurusan Cicaheum-Ledeng, turun di depan Gedung Sate.
  • Dari terminal Leuwipanjang naik bus Damri jurusan Dago, sampai di perempatan Diponegoro, naik lagi angkot 05 jurusan Ledeng-Cicaheum, turun di seberang Gedung Sate.
  • Dari Cimahi naik angkot jurusan Cimahi – Stasiun Hall, turun di Istana Plaza. Naik lagi angkot 06 jurusan Ciroyom-Cicaheum, turun di seberang Lapangan Gasibu, jalan kaki menyeberang ke Lapangan Gasibu, dan jalan sedikit lagi ke Gedung Sate.

Tiket Masuk Gedung Sate

Gedung Sate Bandung dibuka untuk umum setiap hari Selasa s/d Minggu dengan jam operasional mulai pukul 9.30 sampai 16.00 WIB. Tutup setiap hari Senin dan hari libur nasional. Bagi wisatawan yang ingin masuk ke akan dikenai tarif tiket masuk Gedung Sate sebesar Rp 5.000 per orang.

Bagi wisatawan yang datang bersama rombongan disarankan untuk melakukan reservasi terlebih dahulu melalui call center Museum Gedung Sate di nomor telepon (022) 4267753.